Ringkasan Khotbah

3
Apr 2016
Yehezkiel 17:22-24
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Sesuai nubuatan Nabi Yeremia, sebenarnya Tuhan menghukum Kerajaan Yehuda melalui tangan Raja Babel/Nebukadnezar. Tuhan berkata bahwa tujuan disiplin tersebut adalah demi pertobatan mereka. Pada masa akhir Kerajaan Yehuda, Raja Yoyakhin dikalahkan oleh Nebukadnezar, Raja Babel. Lalu Raja Babel mengangkat Zedekia (Paman Yoyakhin) menjadi raja menggantikan Yoyakhin (Yeh. 17:12-14). Jadi pada mulanya, niat hati Nebukadnezar tidaklah bermaksud memusnahkan orang Yahudi secara total. Tetapi Zedekia mengadakan persekutuan dengan Firaun Raja Mesir untuk memberontak melawan Babel, sesaat tampak baik, tetapi ternyata malah membawa Kerajaan Yehuda mengalami kehancuran total.

Tuhan sebenarnya menyuruh Zedekia tunduk kepada disiplin Tuhan melalui Raja Babel, yang mengangkatnya menjadi Raja menggantikan keponakannya. Raja Babel mengikatnya dengan sumpah untuk setia. Tetapi Zedekia memberontak terhadap Raja Babel dan bersekutu dengan Firaun. Sementara waktu Firaun menolongnya sehingga tentara Babel mundur, tetapi kemudian ketika mereka pergi maka tentara Babel kembali dan memusnahkan Yerusalem tepat seperti nubuatan Nabi Yeremia (2 Taw. 36:11-13).

Jadi sumpah yang dibuat Zedekia terhadap Raja Babel adalah demi Tuhan. Tindakannya mengingkari sumpah itu menunjukkan bahwa ia tidak menepati ucapannya sendiri. Rupa-rupanya itulah sifat dasar Zedekia. Ia juga tidak menepati janji yang ia buat kepada Tuhan tentang pertobatannya. Ia kembali berbuat dosa dengan secara sengaja memperbudak orang-orang Yahudi. Tindakan itu adalah bukti ia tidak menghargai Tuhan. Saat dalam keadaan terjepit dan terdesak, Zedekia berdoa meminta pertolongan Tuhan dan berjanji untuk mentaati Firman dengan melepaskan para budak. Ia sendiri yang berjanji kepada Tuhan akan membebaskan para budak pada masa ia terjepit dan memerlukan pertolongan Tuhan, tapi ketika sedikit terasa kelegaan, ia mengingkarinya. (Yer. 34:15-17; 37:5-10). Tuhan berkata melalui Nabi Yehezkiel, bahwa tindakan Zedekia justru akan menghancurkan Kerajaan Yehuda.

Melalui Nubuatan Yehezkiel dalam pasal 17 ini, Tuhan berjanji bahwa Dia sendiri akan mendirikan Kerajaan Allah yang sangat besar, yang akan diperintah oleh Juruselamat.yang digambarkan sebagai pucuk pohon aras yang masih muda, yang ditanamkan oleh Tuhan dan menjadi berkuasa untuk atas seluruh bumi. Raja Zedekia mengingkari perjanjian yang dibuatnya dengan Raja Babel. Dan ia tidak menaati perintah Tuhan yang diberikan melalui Nabi Yeremia agar menundukkan diri kepada Raja Babel sebagai disiplin rohani, tetapi memberontak. Ini juga mewakili hatinya yang melawan Tuhan. Meskipun ketika ia meminta petunjuk nabi Yeremia mengenai apa yang harus ia lakukan ketika diserang oleh Nebukadnezar, tapi ia mengabaikan nasihat Tuhan. Petunjuk yang diterimanya jelas, tetapi ia tidak menaatinya, melainkan lebih mempercayai logikanya sendiri (Yer. 38:17-20). Demikianlah gambaran kebidupan manusia. Saat dalam keadaan terjepit, dalam doanya kepada Tuhan, manusia dengan mudah mengumbar janji akan bertobat, akan berbuat baik, tidak akan mengulang perbuatannya lagi, akan menyumbang ini dan itu, dll. Tetapi apakah mereka menepatinya ketika pertolongan itu tiba?

Hari ini kita akan belajar bersama mengenai komitmen. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komitmen adalah: Perjanjian ( keterikatan ) untuk melakukan sesuatu. Kontrak, prasetia, darma. Jadi ada sebuah keterikatan di sana, mengharuskan pihak yang berkomitmen untuk menepati janjinya. Ketika kita memiliki komitmen, maka kita juga memiliki tekad untuk mempertahankan komitmen tersebut. Jika tidak bisa, jangan berkomitmen karena komitmen membutuhkan pengorbanan.

Prinsip apa yang dapat kita pelajari dari firman Tuhan hari ini?

1. Komitmen sejati jauh lebih kuat dari sekedar perasaan. Tahukah Anda bahwa pernikahan adalah sebuah komitmen? Pernikahan bukanlah hanya sekedar perasaan cinta atau romantisme. Di mata Tuhan, pernikahan adalah sebuah janji kudus yang harus dihormati. Melanggar komitmen pernikahan adalah sama dengan menghina Tuhan. Ingat, janji pernikahan dibuat di hadapan Allah dan manusia. Perasaan sering menipu! Yesus dihina, dicaci-maki, dikhianati, tetapi Ia komit pada janji-Nya, pada tugas dan  rencana-Nya. Di malam perjamuan terakhir Ia mencuci kaki para murid-Nya. Bagaimana ketika Ia mencuci kaki Yudas? Ia mengesampingkan perasaan-Nya dan menepati janji-Nya. Ketika umat Tuhan menyakiti hati-Nya, tentu saja Ia merasa sangat terluka. Tetapi Tuhan berkata bahwa Ia tetap menepati janji-Nya. Tuhan berkomitmen. Apa yang dijanjikan-Nya kepada Adam dan Abraham mengenai Juruselamat, tetap dilaksanakan-Nya. Orang yang memiliki potensi yang besar namun terlalu mendahulukan perasaannya, tidak akan meraih mimpinya serta tidak akan bisa sukses. Untuk meraih keberhasilan dibutuhkan lebih dari sekedar potensi, karisma, maupun perasaan. Kita butuh komitmen! (2 Tim. 4:1-8). Tingkat komitmen seseorang menunjukkan tingkat kedewasaan orang tersebut. Itu sebabnya pernikahan bukan untuk anak kecil. Hal mendasar untuk memegang komitmen adalah menepati janji. Halangan menepati janji ada banyak: (a).Perasaan: Marah, kecewa, sakit hati, malas, dll. (b).Situasi: Keadaan yang sulit, dll. Namun banyak manusia tidak menepati janjinya. Lebih mendahulukan perasaan/nafsu daripada menghormati Allah (Rom. 1:28; Ams. 28:26).

2. Komitmen sejati mendatangkan kepercayaan. Kita bisa tenang karena Tuhan tidak pernah lupa akan komitmen dan janji-Nya. Komitmen Tuhan pada kita sudah jelas, pertanyaannya adalah bagaimana komitmen kita pada Tuhan? (2 Tim. 2:13). Jika suami isteri tidak ada komitmen, maka tidak ada ketenangan dalam rumah tangga. Jika kita tidak komitmen, maka kita tidak akan memiliki ketenangan dalam hati. Jika seseorang terbiasa berbohong, maka ia akan sulit mempercayai orang lain. Pada akhirnya ia tidak dapat mempercayai dirinya sendiri dan sulit mempercayai Tuhan, karena dihantui dirinya sendiri (Mat. 5:33-37). Apakah Anda ingin memiliki ketenangan dalam hati? Ketenangan dalam rumah tangga? Ketenangan dalam pelayanan? Seseorang yang tidak memiliki komitmen dalam hal kecil, ia juga tidak akan memiliki komitmen dalam hal besar. Pertobatan sejati diperlukan! Apakah Anda dapat mempercayai orang lain? Apakah Anda dipercayai orang lain?

3. Komitmen sejati menentukan masa depan kita. Nasib Zedekia di tangannya sendiri. Ia hancur karena tidak memegang komitmen! Rumah tangga tanpa komitmen berakhir pada kehancuran masif. Hubungan tanpa komitmen menghasilkan malapetaka dan sakit hati. Kekristenan tanpa komitmen akan menghasilkan kekristenan yang suam-suam kuku. Menolak berkomitmen sama dengan menolak untuk tumbuh dewasa. Marilah kita memulai berkomitmen untuk hidup kudus dan menikmati kesuksesan, karena komitmen adalah keputusan kita pribadi. Keputusan yang akan menentukan arah masa depan kita. Tuhan mendesain kita untuk rencana keselamatan-Nya, apakah kita mau berkomitmen untuk hal itu? (Ams. 20:6). Allah memberkati orang yang berkomitmen, setia sampai pada akhirnya (Rom. 2:6-10). Amin!

22
Jan 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
14
Jan 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
7
Jan 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
31
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
24
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.