Ringkasan Khotbah

12
Apr 2015
Ayub 26:14
Ps. Benny Yulianto, S. Th.

Dalam kisah Ayub ini, sepertinya penulis lebih memfokuskan pada proses penderitaan Ayub dibanding dengan awal dan akhir penderitaannya. Kita lihat bahwa kitab ini banyak membahas pergumulan Ayub dalam menghadapi masalahnya. Tentu ada maksud yang ingin penulis sampaikan dan menjadi pelajaran bagi pembacanya. Seringkali ketika kita melihat orang yang telah sukses,kita hanya melihat kesuksesannya saja tetapi tidak melihat proses berat yang mereka hadapi. Justru yang menjadi kebanggaan mereka yang telah sukses itu adalahpada prosesnya. Keterbatasan pemahaman teman-teman Ayub tentang Allah menyebabkan nasihat-nasihat yang disampaikan kepada Ayub justru sifatnya menghakimi bukan menghibur. Seperti Ayub yang semula tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, begitu pula kita seringkali juga tidak pernah mengerti sepenuhnya ketika masalah menimpa kita. Seringkali banyak orang mengistilahkannya dengan "hidup itu penuh dengan misteri", mereka tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Masalah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja.

Ayub adalah orang yang saleh, orang yang terhormat, dan kaya. Masalah tidak kenal kepada siapa dia datang dan tidak pernah mengenal waktu kapan datangnya. Siapa pun kita, akan sama-sama menghadapi masalah dan kita tidak bisa memprediksi kapan datangnya. Hidup tidak selalu berada dalam keadaan yang sama (Ayub 1). Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup manusia tidak selalu berada dalam keadaan yang baik terus, ada kalanya kita berada pada keadaan yang buruk. Orang biasa memberikan istilah "langit tidak selalu biru" atau "roda akan selalu berputar". Kalau Firman Tuhan berkata bahwa orang percaya akan selalu dipelihara Tuhan, bukan berarti mereka akan mengalami hal-hal yang baik terus, tetapi kadang diizinkan juga mengalami keadaan yang buruk. Namun dalam keadaan apa pun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Masalah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Masalah tidak kenal kepada siapa dia datang dan tidak pernah mengenal waktu kapan datangnya. Siapa pun kita, akan sama-sama menghadapi masalah dan kapan datangnya kita tidak bisa memprediksinya (Ayub 29).

Jika kita tidak bisa memahami hal ini, maka kita akan menjadi orang yang mudah putus asa. Bahkan kita bisa berkata bahwa Tuhan tidak adil dan juga meragukan janji Tuhan untuk memberkati umat-Nya. Seperti Asaf yang semula menyangka bahwa Tuhan tidak adil, tetapi setelah dia mengenal Tuhannya maka mereka tahu apa maksud Tuhan (Maz. 73:17-18).

Dari kisah ini kita dapat belajar bagaimana kita kuat dalam menghadapi masalah:

1. TANGGAPAN DALAM MENGHADAPI MASALAH. Bagaimana tanggapan Ayub dalam menghadapi masalah yang menimpanya? Tentu sebelumnya Ayub tidaklah mengerti apakah masalah yang terjadi dalam hidupnya merupakan ujian atau pencobaan. Kadang ketika kita mengalami masalah, kita juga sulit untuk mengerti apakah hal itu adalah ujian atau pencobaan, sehingga timbullah berbagai asumsi. Kalau kita melihat kisah Ayub ini, kita akan menjumpai tanggapan Ayub pertama kali adalah tanggapan yang positif. Dua kali Ayub berkata-kata positif ketika ia mengalami dua kali musibah. Musibah yang pertama, Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya, dan ia berkata "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Musibah kedua, Ayub ditimpa dengan penyakit barah yang busuk dan istrinya menyalahkannya tetapi Ayub kembali berkata "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:10). Sikap hati menentukan reaksi atau tindakan kita. Ketika seseorang menanggapi masalah dengan negatif, maka akan menghasilkan tindakan yang negatif pula. Diakui atau tidak, ketika seseorang mengalami masalah yang berat, kecenderungannya seringkali menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau mengasihani diri sendiri. Orang melakukan tindakan bunuh diri dikarenakan menanggapi masalah dengan negatif dan merasa masalahnya sudah tidak ada jalan keluar, serta sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi sebaliknya, jika kita menanggapi masalah dengan positif, maka tindakan kita akan positif juga, penuh keyakinan pasti bisa, penuh iman pasti Tuhan menolong, dan penuh harapan karena percaya Tuhan buka jalan (Roma 15:13).

2. TINDAKAN KITA DALAM MENGHADAPI MASALAH. Bagaimana sikap Ayub dalam mengatasi masalahnya? Ayub membuka diri untuk nasihat, terutama kepada Tuhan. Berbagai argumen yang disampaikan oleh Ayub dan sahabat-sahabatnya adalah tentang menginstropeksi diri. Penting bagi kita untuk membuka diri terhadap nasihat ketika kita sedang mangalami masalah. Tentu kita harus mencari penasihat yang baik yang memberi nasihat yang benar sebab tidak semua nasihat itu baik. Ada nasihat yang memberi solusi yang palsu seperti ketiga sahabat Ayub sehingga mereka mendapat murka dari Allah. Nasihat bisa datang dari pemimpin rohani, saudara seiman, dan dari Tuhan melalui Firman Tuhan (Maz. 73:24). Selain membuka diri terhadap nasihat, yang dilakukan Ayub dalam mengatasi masalah adalah dengan bertekun. Ayub bertekun dalam menghadapi masalah dan tidak mudah putus asa (Yak. 5:11). Ketekunan Ayub ketika mengalami penderitaan adalah hasil kualitas kerohaniannya, dari hanya mendengar cerita orang lain tentang Allah sampai ia sendiri memandang Allah (Ayub 42:5). Tidak bisa diabaikan bahwa membangun kualitas rohani sangat penting agar kita mampu mengatasi masalah-masalah hidup yang menimpa kita (1 Tim. 4:7-9). Amin!

22
Jan 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
14
Jan 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
7
Jan 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
31
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
24
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.