Ringkasan Khotbah

22
Mar 2015
Ayub 2:9-10
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Kitab Ayub merupakan salah satu kitab tertua di dalam Alkitab. Ayub hidup sekitar zaman Abraham, Ishak dan Yakub, bahkan mungkin lebih tua. Ia hidup di Tanah Us, yang ratusan tahun kemudian dikuasai oleh bangsa Edom. Ayub bukan orang Israel. Bangsa Israel ada jauh setelah zaman Ayub. Nama Ayub terus disebut dalam Perjanjian Lama, dan bahkan hingga dalam Perjanjian Baru. Ia adalah salah satu pahlawan iman yang menjadi teladan bagi kita semua. Keteladanan yang ia berikan menggambarkan kualitas karakter serta karya penebusan Tuhan Yesus Kristus, yang datang ke dunia ribuan tahun setelah zaman Ayub.

Ayub seorang yang saleh, jujur, menghormati Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Bahkan Tuhan memuji kesungguhan pengabdian Ayub kepada-Nya. Ia seorang yang sangat kaya, bahkan yang terkaya di daerah Timur. Total harta kekayaannya adalah ratusan milyar rupiah, jika dihitung pada zaman ini. Ia memiliki istri serta 10 orang anak: 7 anak lelaki dan 3 anak perempuan. Anak-anaknya biasa berpesta secara bergiliran. Setiap kali waktu-waktu pesta berlalu, Ayub memanggil mereka serta menguduskannya (sanctify), dalam arti ia mengajar dan menasehati mereka agar tidak melakukan hal yang berdosa. Jadi ia adalah seorang ayah yang mempedulikan kerohanian anak-anaknya. Ayub juga mempersembahkan korban bakaran untuk memohonkan ampun bagi anak-anaknya. Pendek kata, Ayub bertindak sebagai imam bagi keluarganya. Ia adalah ayah dan suami yang baik bagi keluarganya. Ia hidup tidak bercela di hadapan Tuhan. Ia hidup mengabdi kepada Tuhan dengan sepenuh hati!

Ada informasi penting yang dapat kita pelajari dari kisah Ayub:

1. Orang yang saleh dan menghormati Tuhan dapat mengalami kesulitan. Ada pengajaran yang mengatakan bahwa jika kita sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhan, maka kita akan mendapatkan jaminan kekayaan serta kemudahan hidup. Pengajaran ini tidak sepenuhnya benar. Sebab jika demikian, manusia tidak akan memberikan pengabdian yang tanpa syarat kepada Tuhan. Prinsip itu hanya menjadi seperti resep untuk mendapatkan kekayaan saja. Ada orang bertanya mengapa ia melihat orang saleh menderita, tetapi orang berdosa malah sepertinya hidup senang. Para nabi dan hamba-hamba Tuhan dianiaya dan disakiti dalam penderitaan (Mat. 23:37; Ibr. 11:36-39; 2 Raja 13:14). Mengapa manusia mengalami kesulitan dan masalah? (a) Karena seizin Tuhan. Pasti ada maksud dan rencana Tuhan di balik semuanya itu. (b) Karena kesalahan sendiri. Jangan buru-buru menyalahkan Tuhan ketika mengalami kesulitan. Melayani Tuhan dengan sungguh bukan jaminan keamanan jika kita terus menerus bertindak dengan ceroboh dalam hidup kita. Kita harus bertindak dengan hati-hati dalam segala hal. (c) Karena kesalahan orang lain.

2. Tanpa seizin Tuhan, iblis tidak dapat menjamah apapun dalam kehidupan umat Tuhan. Tuhan senang memberkati dan melindungi umat-Nya. Setan tidak senang melihat umat Tuhan hidup dalam berkat Tuhan, ia berusaha keras untuk merusak semuanya itu. Jika Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup umat-Nya, Tuhan tidak pernah bermaksud jahat. Ia tidak pernah membiarkan kita mengalami beban yang jauh melebihi kekuatan kita. Jika Tuhan mengizinkan persoalan datang dalam hidup umat-Nya, Ia selalu memiliki maksud baik di balik semuanya itu (1 Kor. 10:13; Mat. 6:13).

3. Kadang manusia tidak mendapatkan penjelasan mengenai alasan mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidupnya. Tidak semua yang dialami manusia mendapatkan penjelasan yang memadai. Hikmat Tuhan jauh melebihi pikiran, ide, serta rencana manusia. Ayub tidak mendapat penjelasan apapun saat ia mengalami semua pergumulan yang ia alami, namun di akhir pergumulannya, akhirnya Tuhan menunjukkan kepadanya bahwa Ia memiliki maksud yang luar biasa bagi Ayub (Ayub 37:5). Allah memiliki rencana yang luar biasa, pemikiran yang dahsyat, dan pertimbangan-pertimbangan yang terlalu luas bagi manusia sehingga manusia seringkali tidak dapat memahami hal tersebut. Hanya ketika Tuhan mengizinkan manusia memahami alasan mengapa Ia melakukan sesuatu, maka barulah manusia dapat mengerti. Dari semua peristiwa tersebut, dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya Tuhan mempermalukan iblis. Tuhan membuktikan kemahatahuan-Nya, kemahabijaksanaan-Nya, dan Tuhan tidak pernah salah!

Dari kisah tersebut terbukti bahwa Ayub memberikan pengabdian yang sejati kepada Tuhan. Apa hikmah yang dapat kita peroleh dari kisah ini?

1. Pengabdian yang sejati bukanlah pengabdian yang bersyarat. A) Bukanlah karena pemberian. B) Bukanlah karena kenyamanan.Jika pengabdian kita kepada Tuhan memerlukan pemberian tertentu dari Tuhan, maka itu sama dengan kita memperlakukan Tuhan dengan tidak hormat karena menyamakan Tuhan seperti berhala. Contoh: Melayani pekerjaan Tuhan karena ingin diberkati dan ingin sukses. Memberi kepada Tuhan haruslah karena kasih, bukan karena ingin memperoleh berkat yang berlimpah, dan bukan karena ingin menerima kembali 100 kali lipat. Banyak hamba Tuhan mengajar jemaat untuk memberi agar diberkati, dan jika tidak memberi maka tidak akan diberkati. Mengatakan setengah kebenaran sama saja dengan tindakan yang salah. Tahukah Anda bahwa pemberian Anda sebenarnya mewakili isi hati Anda kepada Tuhan? Sejauh mana hati Anda mengabdi kepada Tuhan? Tuhan telah demikian baik bagi kita, Ia rela mengorbankan nyawanya di kayu salib bagi kita. Masihkah kita meminta-Nya untuk memberi apa-apa lagi agar kita dapat mengabdi kepada-Nya? Banyak orang berbuat baik agar ia diterima dalam kerajaan surga. Jika demikian, maka sama saja ia tidak melakukan perbuatan baik itu untuk Tuhan, tetapi semua itu ia lakukan untuk kepentingannya sendiri! Ibadah bukanlah sebuah perbuatan egois yang mementingkan diri sendiri. Ibadah adalah perbuatan yang dilakukan untuk Tuhan.

2. Pengabdian yang sejati adalah karena kasih dan kepercayaan kepada Tuhan.Ayub mengabdi kepada Tuhan bukan karena segala berkat yang ia terima dan bukan karena kenyamanan yang ia nikmati, tetapi karena hatinya yang mengasihi Tuhan tanpa syarat. Ayub mengabdi kepada Tuhan karena ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepadanya, ia menyadari bahwa segala sesuatu terjadi di dalam hidupnya atas seizin Tuhan. Meskipun ia belum mengerti alasan dan maksud Tuhan mengizinkan semuanya itu ia alami, ia tetap mempercayai Tuhan dengan segenap hati. Mari kita mengabdi kepada Tuhan karena kita mengasihi Tuhan dan mempercayai kasih-Nya. Tuhan selalu merancangkan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Kita tidak perlu meragukan kebaikan Tuhan. Sebagai orang tua, Anda ingin anak-anak Anda menghormati Anda bukan karena terpaksa, bukan karena mereka takut kualat, dan bukan karena agar mereka punya nama baik. Sebagai atasan, Anda ingin dihormati dan dihargai bukan karena berkuasa. Kita tidak boleh beribadah hanya karena takut tidak diberkati, dll, tetapi karena kita mengasihi dan mempercayai-Nya. Melakukan Firman Tuhan bukan karena takut hukuman, tetapi karena mengasihi Tuhan dan mempercayai Firman-Nya.Amin!

22
Jan 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
14
Jan 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
7
Jan 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
31
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
24
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.